Wawancara: Banyi dari ara contemporary Tentang Art Jakarta 2025

Pagelaran seni internasional yang berfokus di Asia Tenggara, Art Jakarta kembali digelar tahun ini pada 3-5 Oktober 2025 lalu di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Art Jakarta 2025 menghadirkan 75 galeri terkemuka dari 16 negara di seluruh Asia dan luar asia yang salah satunya galerinya adalah ara contemporary. Tim Erat Indonesia berkesempatan untuk mengunjungi dan mewawancarai Banyi selaku Gallery Associate dari ara contemporary.
Erat Indonesia (EI): Bisa diceritakan tentang konsep booth ara contemporary di Art Jakarta 2025?
Banyi (B): Tahun ini spesial banget karena ini debut pertama ara contemporary di Art Jakarta. Booth kami di C3 luasnya sekitar 100 meter persegi dan lewat partisipasi ini kami ingin menunjukkan komitmen kami terhadap seniman-seniman Asia Tenggara.
Fokus utamanya memang untuk memperkenalkan berbagai suara dan praktik yang berkembang di kawasan ini, dari yang emerging sampai yang sudah established. Jadi booth kami kayak semacam snapshot lintas Asia Tenggara, nggak cuma soal karya visualnya, tapi juga cara mereka menyuarakan isu dan konteks dari masing-masing negaranya
EI: Apa yang ingin disampaikan Ara Contemporary melalui partisipasi di Art Jakarta tahun ini?
B: Art Jakarta buat kami adalah kesempatan untuk memperlihatkan bagaimana seni Asia Tenggara sekarang sudah menjadi bagian penting dari percakapan global.
Kami ingin menunjukkan bahwa praktik para seniman ini relevan, reflektif, dan terus berkembang. Jadi intinya, kami ingin memperkuat posisi seniman-seniman Asia Tenggara di peta seni internasional, sambil tetap menjaga kedekatan mereka dengan konteks lokalnya.

EI: Siapa saja seniman yang dibawa ara contemporary tahun ini dan bagaimana proses kurasinya?
B: Kami menampilkan karya dari berbagai seniman Asia Tenggara, antara lain Agan Harahap, Arlette Quynh-Anh Tran, Alisa Chunchue, Dita Gambiro, Enggar Rhomadioni, Ipeh Nur, Irfan Hendrian, Iwan Effendi, Kanokwan Sutthang, Lai Yu Tong, Marcos Kueh, Natalie Sasi Organ, dan Urubingwaru.
Proses kurasinya dimulai dari keinginan kami untuk menghadirkan representasi yang luas tentang bagaimana seniman-seniman di kawasan ini merespons realitas mereka masing-masing, baik secara sosial, politik, maupun pribadi. Jadi tiap karya dipilih bukan hanya karena kekuatannya secara visual, tapi karena ia berkontribusi pada dialog yang lebih besar tentang Asia Tenggara hari ini.
EI: Apakah ada karya baru atau eksklusif yang pertama kali ditampilkan di Art Jakarta?
B: Banyak karya di booth kami yang baru pertama kali ditampilkan publik. Salah satu highlight-nya ada di area Art Jakarta Spot, karya dari Ipeh Nur, seniman Indonesia yang karyanya baru saja dipamerkan di Future Generation Art Prize 2024 dan ini pertama kalinya ditampilkan di Indonesia.

Selain itu, kami juga membawa karya-karya terbaru dari seniman seperti Alisa Chunchue dan Mar Kristoff yang saat ini masing-masing sedang menggelar solo exhibition di galeri kami.
EI: Apakah ada rencana kolaborasi baru atau pameran lanjutan setelah event ini?
B: Di luar Art Jakarta, kami sedang menjalankan dua pameran tunggal di galeri, yaitu Wound oleh Alisa Chunchue dan Interloper oleh Mar Kristoff. Setelah pameran ini, kami akan lanjut dengan beberapa program solo show untuk seniman eksklusif kami dan tetap membuka peluang kolaborasi lintas negara kedepannya. Intinya, kami ingin terus menjaga momentum dialog dan pertukaran yang tercipta dari Art Jakarta ini, agar berlanjut ke ruang-ruang lainnya
