Netflix Tikung Paramount di Detik Terakhir: Plot Twist Dramatis Hollywood

Hollywood sedang menyaksikan salah satu drama korporasi paling panas dalam satu dekade terakhir. Bukan di layar lebar, tapi di ruang rapat para raksasa industri.
Paramount nyaris mengamankan Warner Bros. Discovery–sampai Netflix datang dan membalik meja dengan kesepakatan senilai US$82,7 miliar.
Awalnya, situasi tampak berpihak ke Paramount. Didukung langsung oleh miliarder teknologi Larry Ellison, Paramount mengajukan tawaran agresif untuk mengambil alih Warner Bros. Discovery dengan valuasi minimal US$60 miliar. Bahkan, dukungan politik terbuka dari Presiden Donald Trump membuat posisinya tampak nyaris tak tergoyahkan.
Namun, industri hiburan tak pernah benar-benar mengenal kata “pasti”.
Netflix Masuk dan Permainan Berubah Total
Di saat banyak pihak mengira Paramount sudah berada di jalur kemenangan, Netflix justru melakukan manuver senyap. Tanpa banyak gembar-gembor, mereka melayangkan proposal bernilai US$27,75 per saham, dengan total kesepakatan US$82,7 miliar, untuk mengakuisisi aset inti Warner Bros., termasuk studio film dan televisi serta HBO dan HBO Max.
Dewan direksi Warner Bros. Discovery menilai tawaran Netflix lebih menguntungkan bagi pemegang saham, meski tidak mencakup CNN dan saluran kabel lainnya. Hasilnya: Paramount tersingkir di saat-saat terakhir.
Di Mana Paramount Salah Langkah?

Berdasarkan informasi para analis dan sumber internal lelang, kegagalan Paramount bukan semata karena kalah dana, tetapi karena strategi yang keliru:
- Tawaran Terlalu Rendah di Awal
Paramount lebih dulu mengajukan penawaran $19 per saham–yang langsung ditolak mentah-mentah oleh dewan Warner Bros.
- Terlalu Percaya Diri
Tim Paramount diyakini merasa hanya mereka pemain serius dalam perebutan ini, bahkan meremehkan Netflix yang sempat “merendah” di media.
- Pendanaan yang Terlihat Rapuh
Ketika harga meningkat, Paramount terpaksa mencari dana tambahan dari Apollo Global Management hingga dana kekayaan negara Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab–yang justru menimbulkan keraguan di pihak Warner.
- Masalah Politik yang Menghantui
Kedekatan Larry Ellison dengan Donald Trump ternyata bukan hanya aset, tapi juga beban. Hubungan politik ini membuat sebagian pihak di Hollywood dan regulator internasional merasa tak nyaman.
Pertimbangan tentu semakin rumit setelah laporan bahwa pihak Gedung Putih sempat membicarakan potensi “pembersihan” jurnalis CNN jika akuisisi terjadi.
Paramount Melawan: Ancaman Perang Hukum
Setelah kalah, Paramount tak tinggal diam. Mereka mengirim surat ke CEO Warner Bros. Discovery, David Zaslav, menuduh proses lelang telah “diatur” untuk menguntungkan satu pihak, yakni Netflix.
Mereka juga bersiap mendesak SEC dan Departemen Kehakiman AS untuk menyelidiki kesepakatan Netflix dengan dalih potensi praktik anti-persaingan yang dapat merugikan konsumen dan bioskop.
Yang menarik, kesepakatan ini pun belum sepenuhnya aman. Netflix sendiri memperkirakan proses regulasi dapat memakan waktu 12-18 bulan, dengan potensi penolakan dari regulator antitrust selalu mengintai.
Larry Ellison: Kalah, Tapi Tidak Habis
Bagi Larry Ellison, ini adalah salah satu kekalahan langka dalam perjalanan bisnisnya yang penuh kemenangan. Dari anak Chicago Selatan yang tumbuh dalam kondisi sederhana, hingga menjadi pendiri Oracle dan salah satu orang terkaya di dunia, hidupnya memang penuh duel besar.
Di Hollywood, pengaruhnya sebagian besar terwujud lewat anak-anaknya:
Megan Ellison melalui Annapurna, rumah produksi film-film prestisius seperti Her dan Zero Dark Thirty. David Ellison lewat Skydance Media, di balik franchise besar seperti Top Gun: Maverick dan Star Trek.
Dan meski gagal kali ini, dalam catatan sejarah Larry Ellison tidak suka kalah.
