Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Menjinakkan Gerak, Menyimak Ingatan: Dua Pameran Penutup 2025 di ara contemporary

Lantai focus yang menjadi lokasi ekshibisi duo Longer, Linger & Angler.

Di penghujung 2025, ara contemporary menutup tahun dengan dua pameran yang terasa seperti jeda napas: ruang untuk refleksi dan menyimak bagaimana cahaya serta ingatan dapat berubah menjadi bahasa visual yang halus namun mendalam.

The Stillness of Becoming: Cahaya, Air, dan Waktu Menemukan Rumah Mereka di ara contemporary

Dalam The Stillness of Becoming, pameran tunggal terbaru Condro Priyoaji, kita diajak untuk mengamati hal yang selama ini kita anggap diam–pantulan cahaya, air yang tenang, bayangan yang bergerak pelan–dan memahami bahwa keheningan sebenarnya adalah gerak yang tertunda.

Sejak awal, Priyoaji tertarik pada paradoks: bagaimana sesuatu yang sementara dapat diubah menjadi bentuk yang seolah tetap. Jika seri karya Priyoaji sebelumnya menelusuri cahaya di lanskap alami, kini ia mengarahkan pandangannya pada intervensi manusia: cermin dan riak air yang memantulkan cahaya dalam pola tak terduga.

Melalui rangkaian lukisan monokromatik, ia menunjukkan bahwa realitas visual tidak pernah sesederhana apa yang kita lihat–ia adalah hasil dari cahaya yang jatuh pada medium, melewati, dan memantul dari benda-benda di sekitar kita. Sekuat apa pun kita mencoba menangkap momen, ia selalu bergerak sedikit lebih cepat. Stillness, dalam konsep yang dipilih oleh Priyoaji kali ini, bukanlah titik beku melainkan jeda. Sebuah ‘becoming’.

Pameran ini diperdalam melalui kolaborasi dengan studio arsitektur FFFAAARRR. Mereka membangun ruang berupa lorong-lorong terpisah, mengubah galeri ara contemporary menjadi rangkaian “cuplikan” momen yang dimasuki satu per satu. Ditambah suara rintik air sebagai pemantik sensorik, pengunjung akan mengalami momen yang utuh bersama karya Priyoaji–untuk memperkuat atmosfer melankolis yang sudah melekat pada karya Priyoaji. 

Hasilnya adalah ruang kontemplatif di mana cahaya tidak hanya terlihat, tetapi dirasakan.

Longer, Linger & Angler: Tradisi, Ingatan, dan Kerja Mengingat yang Tak Pernah Selesai

Di lantai focus, Pande Wardina dari Indonesia dan Xiuching Tsay dari Thailand menawarkan perspektif berbeda dalam membaca tradisi. Longer, Linger & Angler bukan pameran tentang nostalgia; ia adalah percakapan tentang apa yang menetap, apa yang hilang, dan apa yang dibayangkan ulang setiap kali kita menyentuh memori.

Xiuching Tsay menghadirkan tradisi sebagai arkeologi rumah tangga: lapisan-lapisan objek ritual, rakitan rapuh, kolase warna yang terasa seperti potongan ingatan yang tersimpan setengah sadar. Melalui metode menumpuk, membongkar, lalu menyusun kembali, ia memperlihatkan bagaimana memori bekerja–tidak pernah sepenuhnya utuh, tetapi selalu bergerak antara kejernihan dan keburaman.

ara contemporary menutup kalender pameran mereka i 2025 bersama tiga seniman.

Pande Wardina, sebaliknya, menggunakan perangkat elektronik sederhana, benda-benda temuan, dan komponen rakitan tangan untuk bertanya: masihkah ritual bisa hidup ketika media penyampaiannya rusak, sederhana, atau tidak sempurna? Dengan latar belakang ilmu komputer, ia memandang teknologi layaknya “wadah”, suatu kerangka yang bisa menampung ide spiritual dan ekologis sekaligus.

Keduanya sama-sama merayakan batasan. Alih-alih membatasi, keterbatasan teknis, kultural, dan material justru membuka ruang eksplorasi: bagaimana mengungkap yang tak terucapkan? Bagaimana menghadirkan ingatan tanpa terjebak pada romantisme?

Pada intinya, kedua pameran penutup dari ara contemporary menunjukkan bahwa tradisi adalah dialog yang terus bergerakbukan monumen, melainkan organisme yang bernafas.

Show CommentsClose Comments

Leave a comment