Menikmati Galeri Lokananta, Destinasi Wisata Musik di Kota Solo

Kota Solo yang dikenal kaya dengan budaya dan sejarah, kini memiliki destinasi wisata berbasis musik bernama Galeri Lokananta. Lokananta awalnya terbatas untuk umum, akan tetapi setelah direvitalisasi di tahun 2023 dan berganti menjadi Galeri Lokananta, tempat ini menjadi destinasi wisata menarik jika Anda berkunjung ke Solo.
Lokananta merupakan studio rekaman tertua dan yang pertama hadir di Indonesia. Bahkan tempat ini telah menjadi bagian penting dalam sejarah musik Indonesia. Lokananta didirikan pada 29 Oktober 1956 sebagai Pabrik Piringan Hitam Jawatan Radio Kementerian Penerangan Republik Indonesia.
Pendirian Lokananta adalah realisasi dari gagasan yang dicetuskan oleh Raden Maladi selaku Jenderal Radio Republik Indonesia (RRI). Dipilihnya Solo sebagai tempat dibangunnya Lokananta didasari atas rencana Maladi untuk menjadikan Lokananta sebagai pusat kegiatan industri media serta perekaman musik dan budaya Indonesia.
Seiring berkembangnya teknologi, studio Lokananta sempat terbengkalai dan vakum. Hingga akhirnya mengalami revitalisasi yang membawa perubahan besar bagi studio Lokananta dan memperluas ruang lingkup fungsinya. Dari yang hanya sebagai studio rekaman tertua di Indonesia, menjadi destinasi wisata yang menawarkan pengetahuan sejarah, edukasi, dan seni musik di Indonesia.
Galeri Lokananta saat ini dapat dikunjungi oleh masyarakat umum, dengan biaya mulai dari Rp 25.000 (pelajar dan anak-anak) serta Rp 35.000 (dewasa). Anda juga bisa memilih apakah ingin berkunjung dengan tour guide atau tidak. Sebelum berkunjung, Anda harus melakukan reservasi terlebih dahulu. Setelah mendapatkan tiket, Anda bisa langsung menuju ke Galeri Lokananta sesuai dengan tanggal yang dipilih saat reservasi.
Ruang Pameran Permanen
Di dalam Galeri Lokananta, Anda bisa menikmati berbagai ruang pameran permanen yang memberikan pengalaman menarik tentang sejarah musik di Indonesia. Ruang pameran ini terbagi ke dalam beberapa ruangan, yaitu:
1. Ruang Linimasa

Ruang Linimasa berisikan informasi tentang sejarah panjang perjalanan Lokananta sebagai studio musik tertua di Indonesia. Di ruang ini, Anda juga akan melihat berbagai material peninggalan, seperti kontrak rekaman, instrumen musik, draft desain sampul rekaman, foto, alat produksi, sampai berbagai peralatan kantor yang menjadi bagian penting dalam perjalanan Lokananta sebagai perusahaan rekaman.
2. Ruang Gamelan

Ruangan ini menyajikan seperangkat gamelan yang bernama Kyai Sri Kuncoro Mulyo yang sudah ada di Lokananta sejak 2 Oktober 1984. Seperangkat gamelan tersebut menjadi instrumen andalan untuk merekam berbagai kesenian Jawa yang banyak dirilis Lokananta di tahun 1980-an.
Gamelan juga menjadi ikon Lokananta yang bisa dilihat dari logo Lokananta yang bergambar gamelan. Selain itu, nama Lokananta juga terinspirasi dari seperangkat gamelan surgawi dalam mitologi pewayangan Jawa yang bisa berbunyi sendiri dengan merdu.
3. Ruang Diskografi

Ruang Diskografi ini hanya bisa Anda kunjungi jika masuk ke Galeri Lokananta bersama dengan tour guide, karena ruangan ini aksesnya dibatasi. Di sini Anda akan melihat kurang lebih 5.670 pita master yang mayoritas berasal dari proses perekaman di studio cabang RRI yang selanjutnya digandakan dalam format piringan hitam dan kaset pita.
Meski begitu, hampir 95% materi audio di pita master tersebut sudah berhasil dialihkan ke format digital. Beberapa master pita penting yang tersedia di ruang Diskografi ini, yaitu master lagu Bengawan Solo, master Pembacaan Teks Proklamasi, master lagu Rasa Sayange, master lagu Indonesia Raya, master lagu Bubi Chen, dan master lagi Waldjinah Kembang Katjang.
4. Ruang Bengawan Solo

Ruangan Bengawan Solo ini menyajikan proses perekaman sebuah karya musik sampai diproduksi ke dalam format piringan hitam atau vinyl di Lokananta. Selain itu, Anda juga bisa mengetahui etos kemandirian yang menjadi semangat Lokananta dalam mewujudkan cita-cita para pendirinya.
5. Ruang Anekanada

Ruang Anekanada berisikan koleksi rilisan piringan hitam Lokananta Records sepanjang masa jayanya. Setidaknya ada sekitar 5.760 rilisan yang sudah dipublikasi oleh Lokananta. Akan tetapi, jumlah sebenarnya diperkirakan lebih dari angka tersebut karena hanya rekaman pita reel magnetik yang sampai sekarang tersimpan di Lokananta.
6. Ruang Proklamasi

Ruang Proklamasi menampilkan fakta sejarah tentang rekaman suara proklamasi kemerdekaan Indonesia yang digandakan dan disebarluaskan juga oleh Lokananta Records. Ternyata rekaman pembacaan teks proklamasi kemerdekaan yang dilakukan oleh Presiden Soekarno merupakan hasil rekonstruksi rekaman.
Yusuf Ronodipuro sebagai kepala stasiun RRI membujuk Soekarno untuk merekam pembacaan proklamasi kemerdekaan pada tahun 1951 di studio RRI Jakarta. Kemudian Lokananta memproduksi dan merilis piringan hitamnya di tahun 1959. Rekaman itulah yang kemudian menjadi arsip penting bagi sejarah kemerdekaan Indonesia.
7. Ruang Pameran Temporer

Ruang ini berisikan pameran arsip dan dokumentasi sejarah musik Indonesia selama satu dekade mulai tahun 1959 sampai 1969 dengan judul “Dari Ngak Ngik Ngok ke Dheg DHeg Plas”.
Di ruangan Pameran Temporer Anda akan mengetahui transisi musik di Indonesia mulai dari era kemerdekaan, pra-Lokananta, fenomena pelarangan gaya hidup kebarat-baratan, keterlibatan aparat negara dalam dunia musik Indonesia, sampai fenomena munculnya band-band plat merah di Indonesia.
8. Ruang Pustaka

Ruang Pustaka berisikan beragam koleksi buku bacaan yang bisa Anda nikmati. Buku-buku ini hanya bisa Anda nikmati di dalam ruangan tersebut dan tidak boleh dibawa pulang.
Anda bisa mengunjungi Galeri Lokananta yang berlokasi di Jl. A. Yani No.379 A, Kerten, Kec. Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah.
Untuk informasi lengkap, kunjungi akun instagram Lokananta Bloc.
