Mencari Definisi Masakan Indonesia: Diskusi Publik DKI Menuju Kongres Kuliner 2026

Masakan Indonesia selama ini dikenal luas melalui ragam hidangan daerah yang hadir di meja makan sehari-hari. Namun, di balik kekayaan tersebut, masih muncul pertanyaan mendasar: apa yang dimaksud dengan masakan Indonesia, dan bagaimana ia dipahami sebagai satu kesatuan budaya yang utuh, bukan sekadar kumpulan menu dari berbagai daerah?
Pertanyaan ini menjadi fokus diskusi publik yang diselenggarakan Dewan Kuliner Indonesia (DKI) bertajuk “Apa Itu Masakan Indonesia? – Menyusun Kerangka Definisi Nasional”. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Road to Kongres Kuliner Indonesia 2026 dan digelar di TAMU, restoran Indonesia yang memiliki perhatian pada pelestarian nilai dan tradisi kuliner Nusantara.
Diskusi ini membuka ruang dialog bagi masyarakat dari berbagai latar belakang untuk memahami masakan Indonesia sebagai sistem budaya. Tradisi memasak di Indonesia terbentuk melalui perjalanan panjang yang melibatkan interaksi antardaerah, pengaruh perdagangan, migrasi, serta sejarah kolonial. Proses tersebut membentuk pola, nilai, dan praktik kuliner yang terus hidup hingga saat ini.

Tiga narasumber dengan keahlian berbeda dihadirkan dalam diskusi ini. Sejarawan JJ Rizal membahas kemunculan istilah “masakan Indonesia” dalam konteks sejarah serta kaitannya dengan dinamika sosial dan politik. Hardian Eko Nurseto, dosen antropologi Universitas Padjadjaran, mengulas masakan sebagai bagian dari praktik budaya dan identitas sosial, sekaligus menyoroti risiko penyederhanaan budaya dalam upaya merumuskan definisi nasional. Sementara itu, Haidhar Wurjanto dari Forum Bogor Kota Gastronomi menjelaskan dampak konkret definisi masakan Indonesia terhadap kebijakan publik, standardisasi, dan pengembangan wilayah berbasis gastronomi.
Diskusi yang dimoderatori oleh Ray Janson dari Presidium DKI, menekankan pentingnya menempatkan pembahasan masakan Indonesia pada level konseptual dan strategis. Menurutnya, definisi yang disusun perlu bersifat inklusif, kontekstual, dan berakar pada sejarah.
Melalui diskusi ini, DKI berharap dapat membangun kesadaran bersama bahwa masakan Indonesia adalah warisan budaya yang hidup dan terus berkembang. Hasil diskusi diharapkan menjadi dasar pemikiran penting dalam proses menuju Kongres Kuliner Indonesia 2026, sekaligus memperkuat arah identitas dan kebijakan kuliner nasional ke depan.
