Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Layar Digi: Bioskop Mini di Atas Gerai Alfamart

Di Indonesia, “nonton bioskop” identik dengan pergi ke mal besar, pengeluaran ekstra seperti biaya parkir, dan harga tiket yang sering kali setara dengan jatah makan siang dua hari bagi banyak orang.

Namun, muncul sebuah konsep ambisius hasil kolaborasi Layar Digi dan raksasa ritel Alfamart yang mencoba mengubah “pengalaman nonton bioskop” untuk masyarakat Indonesia. Dengan mengubah lantai atas gerai Alfamart menjadi micro cinema berbasis digital, mereka menjanjikan sesuatu yang selama ini sulit diraih: akses hiburan yang dekat, murah, dan inklusif.

Melawan Dominasi Jaringan Besar?

Layar Digi, yang didukung oleh tokoh industri seperti Rahayu Saraswati dan Mike Wiluan, mencoba menawarkan alternatif bagi masyarakat yang sulit mengakses jaringan bioskop besar atau layanan streaming berbayar.

CEO Layar Digi, Victor Timothy, menegaskan visi di balik bisnis ini. “Hiburan tidak boleh eksklusif,” ujarnya. Senada dengan itu, Presiden Direktur Alfamart, Hans Prawira, melihat kolaborasi ini sebagai langkah menjadikan gerai Alfamart sebagai ruang baru yang bisa dimanfaatkan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Sebagai langkah awal, Alfamart Agricola di Gading Serpong akan menjadi lokasi percontohan yang dijadwalkan beroperasi pada Maret 2026.

Momentum di Tengah Lonjakan Penonton

Data menunjukkan bahwa pasar film Indonesia sedang berada di titik didih. Hingga 31 Desember 2025, jumlah penonton film nasional menembus angka 80,27 juta, meningkat tipis dari tahun sebelumnya. Angka ini membuktikan bahwa minat menonton belum pudar, namun infrastruktur distribusinya masih sangat terpusat di kota-kota besar.

‘JUMBO’ berhasil menembus peringkat ke-6 dalam daftar Top 10 Box Office Korea Selatan dengan pendapatan sebesar $89.722.

Rencana ekspansi Layar Digi ke 50 kota strategis dengan target 500.000 penonton pada fase awal adalah langkah yang berani secara bisnis, namun penuh tantangan logistik kalau menyasar daerah-daerah yang jauh dari pusat kota.

Tantangan Eksekusi dan Paradoks Industri

Dari profil Instagram Layar Digi, diketahui bahwa jenis konten yang akan ditayangkan adalah film, tayangan edukatif, promosi UMKM, hingga karya kreatif anak bangsa. Hingga saat ini, belum ada informasi apakah Layar Digi akan memutar film-film box office terbaru yang mampu bersaing dengan bioskop mal, atau hanya menjadi kanal distribusi film-film lama dan konten edukatif yang mungkin kurang memiliki daya tarik komersial.

Pertanyaan lain yang perlu dijawab adalah paradoks pemilihan lokasi percobaan di Gading Serpong. Wilayah ini adalah kawasan berkembang yang dikelilingi oleh jaringan bioskop papan atas. Jika misi Layar Digi mendemokratisasi akses bagi yang tak terjangkau, apakah pemilihan “kota strategis” di masa depan hanya akan menyasar daerah dengan daya beli tinggi (yang sebenarnya tidak kekurangan bioskop)?

Selain akses ke lokasi menonton sinema yang dipermudah, untuk menciptakan ekosistem sehat yang mendorongproduktivitas, isu terkait kualitas hidup dan jam kerja para Pekerja Lepas di industri film Indonesia juga harus diusahakan. Melalui pernyataan resmi Advokasi Pembatasan Waktu Kerja dan Perlindungan Hak Pekerja Film Indonesia yang dirilis oleh Serikat Sindikasi dan Indonesia Cinematographers Society pada 2022, pekerja film Indonesia ada dalam kondisi berbahaya karena harus menghabiskan 16-20 jam waktu kerja dalam satu hari syuting. Berdasarkan penelitian dari International Labour Organization (ILO) dan World Health Organization (WHO), hal tersebut berpotensi meningkatkan risiko pekerja film Indonesia terkena serangan jantung iskemik atau stroke karena mereka bekerja di atas 55 jam setiap pekan.

Layar Digi berpotensi menghapus blank spot geografis bagi penonton, namun industri film nasional memiliki blank spot lain yang juga butuh perhatian: perlindungan pekerjanya. Ekspansi layar tidak akan pernah benar-benar ‘inklusif’ jika keberhasilannya masih harus dibayar dengan risiko kesehatan dan jam kerja eksploitatif para kreator di balik layarnya.

Show CommentsClose Comments

Leave a comment