Buku untuk Kado Nataru
Jika Anda sedang mencari ide kado untuk hadiah natal atau akhir tahun, kami merekomendasikan buku untuk jadi pilihannya.
Buku bisa menjadi teman untuk menikmati waktu yang tersisa di akhir tahun atau mungkin memantik semangat baru ketika membuka lembaran tahun 2026.
Berikut ini kami hadirkan beberapa rekomendasi yang mungkin cocok untuk calon penerima hadiah Anda!
Museum Teman Baik

Jika calon penerima hadiah masuk dalam kategori slow reader atau perlu curi-curi waktu di antara kesibukan untuk sekedar baca buku, maka judul ini bisa Anda pertimbangkan.
Museum Teman Baik adalah antologi cerita pendek dengan tema besar yakni “persahabatan”. Walaupun buku ini tidak menuntut banyak komitmen untuk menyelesaikannya, ada begitu banyak ide dan nilai di masing-masing cerita yang bisa menjadi refleksi atau sekedar menemani.
Ada 10 judul di dalam buku terbitan Post Press ini, bahkan ada cerita yang disampaikan secara penuh lewat gambar–barangkali bisa membantu penerima menamatkan bukunya.
Entrok oleh Okky Madasari

Buku ini membeberkan cerita mencekam yang sangat berbeda dengan desain sampulnya yang warna-warni.
Lewat buku ini, Okky Madasari mendalami betapa kompleks, bahkan horornya, hubungan ibu dan anak perempuan. Kompleksitas itu dikemas apik lewat keadilan perspektif: setiap bab disajikan bergantian dari sudut pandang si ibu dan si anak.
Novel fiksi ini menjadikan masa Orde Lama sampai awal Reformasi sebagai latar belakang waktu. Jadi, pembaca akan menemukan relevansi antara alur cerita novel ini dan kejadian di sejarah Indonesia. Namun, menyelami kehidupan karakter-karakter di novel Entrok tetap seru karena penulis punya gaya tulisan yang mudah dipahami.
Masyarakat Adat dan Kedaulatan Pangan oleh Ahmad Arif

Karena ditulis oleh seorang jurnalis, penulisan dan susunan alur buku ini terasa begitu luwes. Ahmad Arif merilis judul ini sebagai bagian ketiga dari seri tulisan “Pangan Lokal” miliknya.
Jika di dua judul terdahulu penulis membahas tentang satu makanan lokal yang spesifik, sagu dan sorgum, kali ini fokusnya terpusat pada sejarah ragam kuliner di Nusantara. Sebelum membaca buku ini, kita mungkin mengira bahwa relasi manusia dengan pangan hanya ditentukan oleh faktor ekologis dan biologis semata, tetapi kenyataannya jauh lebih rumit: ada kekuatan ekonomi-politik yang ikut mencengkeram, bahkan menciptakan ironi kelaparan di tengah masyarakat yang sejak turun-temurun hidup akrab dengan sumber makanannya sendiri.
Karena alasan itulah buku ini menjadi penting–bukan sekadar menyodorkan pengetahuan, melainkan mengajak kita bertanya ulang tentang apa yang kita makan setiap hari: dari mana asalnya, adakah pilihan lain selain menu yang itu-itu saja, dan bagaimana agar pilihan kita tetap berpihak pada kemandirian pangan lokal. Lebih jauh, buku ini menyentil kesadaran kita untuk ikut menjaga cara hidup masyarakat adat yang setia merawat keanekaragaman hayati dan tradisi pangan mereka. Sungguh bacaan yang cocok untuk menyulut semangat konsumsi yang lebih bijaksana di tahun baru yang akan datang.
The Tyranny of Merit oleh Michael J. Sandel

Sering membaca kalimat “meritokrasi mati di tangan Prabowo” di media sosial? Buku ini akan mengubah posisi dan respon Anda terhadap kalimat tadi.
The Tyranny of Merit seolah mengurai dengan hati-hati setiap benang-benang pikiran dan keresahan terkait ketimpangan sosial yang kusut. Walaupun membahas isu sistemik yang pelik, Michael J. Sandel berhasil memetakan hulu-hilir masalah dengan bahasa yang sederhana.
Michael J. Sandel, yang punya latar belakang akademisi, justru menantang secara terbuka sistem pendidikan dan membuat kita bertanya “apa benar pendidikan adalah solusi dari ketimpangan sosial?”. Jika Anda calon penerima hadiah Anda membutuhkan bacaan yang menguji ideologi berpikirnya, buku ini bisa masuk ke dalam daftar pertimbangan Anda.

